Belanda,
salahsatu negara yang memiliki tata letak kota yang rapi juga bersih dari
sampah. Bagi sobat KP yang pernah berlibur ke Belanda, sobat KP akan merasakan
nuansa ruang publik yang asri, aesthetic, dan terhindar dari sampah. Ya!
Ruang publik di Belanda terhindar dari tumpukan sampah yang bukan karena kebetulan
ya sobat. Hal ini karena Belanda mempunyai teknologi sampah bawah tanah
yang sangat efisien. Hah? Teknologi sampah? Bawah tanah? Yuk kita cari tahu
lebih dalam!
Apa itu teknologi
sampah bawah tanah Belanda? Jadi, di sepanjang trotoar di Belanda, sobat KP
akan menemukan banyak kotak besi kecil yang elegan sebagai tempat membuang
sampah. Tapi siapa sangka, dibalik tampilannya yang minimalis, terdapat kontainer
raksasa yang tersembunyi di bawah permukaan tanah. Sistem ini memungkinkan
tempat sampah untuk menampung volume sampah yang sangat besar tanpa merusak
pemandangan kota, mencegah aroma tidak sedap, sekaligus memudahkan truk
pengangkut untuk membongkarnya secara otomatis menggunakan sistem hidrolik.
Wah, keren banget ya sobat! Jadi, kita gaperlu lihat tempat sampah yang penuh
sampai tumpah-tumpah ke jalan karena hanya bisa menampung sampah dalam volume
yang kecil.
Inovasi penanganan sampah domestik
yang keren ini sayangnya berbanding terbalik dengan peta limbah
internasional Belanda. Keunggulan geografisnya, membuat Belanda memegang
peran penting dalam proses “transit” bagi perdagangan limbah plastik global.
Pelabuhan Rotterdam yang menjadi salahsatu pelabuhan paling sibuk di Eropa,
menjadikan Belanda sebagai “pintu masuk” utama bagi jutaan ton sampah dari
negara-negara tetangga seperti Jerman, Inggris, dan Perancis. Sampah-sampah ini
hanya “mampir” di Belanda yang kemudian masih harus melanjutkan perjalanan ke
berbagai belahan dunia khususnya di wilayah Asia, seperti Vietnam, Malaysia,
Turki, bahkan Indonesia.
(Ekspor
limbah plastik Belanda 2019-2024 berdasarkan Data ComTrade)
Peran penting Belanda tergambar
dari angka impornya yang hampir mencapai seperlima dari total limbah plastik
dunia meskipun populasinya sangat kecil. Ironisnya, volume sampah yang
membludak ini melampaui kapasitas daur ulang domestik mereka, yakni 300%
lebih tinggi. Waduh! Kondisi ini lah yang menciptakan adanya celah
perdagangan ilegal yang sering “kebobolan” dari pengawasan. Akibatnya, limbah
plastik yang seharusnya dikelola mandiri, malah dikirim ke negara-negara lain.
Tidak hanya sampai di situ saja, sampah-sampah itu akan berakhir menumpuk atau dibakar
dikawasan Asia. Huft! Malah jadi polusi, deh.
Hal inilah
yang menyebabkan Belanda dilema antara menjadi pemimpin inovasi lingkungan
atau malah menjadi perantara polusi global. Uni Eropa telah menyetujui regulasi
baru mengenai pergerakan limbah lintas batas mulai tahun 2026
(regulasi ini melarang semua ekspor limbah plastik ke luar wilayah OECD demi menghentikan
pengiriman sampah ke Asia Tenggara). Semoga, dengan mulai berlakunya
regulasi ini di tahun 2026, bisa mendorong Belanda untuk lebih transparan
dalam melacak aliran sampahnya, tetapi juga memaksa seluruh Eropa untuk
bertanggung jawab penuh atas limbah yang mereka hasilkan sendiri tanpa
memindahkannya ke negara lain.
Referensi:
https://www.instagram.com/reel/DQO4mPrkSGR/?utm_source=ig_web_copy_link
https://fairresourcefoundation.org/en/key-player-waste-trade-netherlands/
No comments:
Post a Comment