Halo, sobat KP!
Belakangan ini di media sosial sedang digemparkan
dengan kasus-kasus yang bikin min KP sedih. Kasus kekerasan seksual mulai muncul
satu per satu ke permukaan, mulai dari di lingkungan kampus, tempat kerja, bahkan
sampai ruang publik yang harusnya jadi tempat paling netral sekalipun. Rasanya,
"ruang aman" buat perempuan itu makin hari makin susah ditemui. Hal ini
juga jadi salah satu alasan kenapa perempuan lebih sulit untuk berekspresi.
Mengapa siklus ini bisa terus berulang? Masalah
utamanya terletak pada kebijakan yang sering kali gagal melindungi perempuan
saat diimplementasikan. Hal ini terjadi karena di ruang pengambilan keputusan,
suara perempuan masih menjadi minoritas. Maka tak heran jika presentase perempuan
di lingkungan politik lebih sedikit dibanding laki-laki. Nah, ngomongin soal ini,
kita bisa melirik ke Belanda. Negara kincir angin ini punya reputasi yang cukup
oke dalam urusan kesetaraan gender di panggung politik. Gimana sih cara
mereka bikin perempuan bisa berkarier dan berekspresi di pemerintahan?
Dalam representasi perempuan di parlemen, Belanda
memegang 43,3% di tingkat nasional. Angka ini di atas rata-rata Uni
Eropa tahun lalu sebesar 33,6% dan menjadi yang tertinggi sejak anggota
parlemen perempuan Belanda pertama terpilih pada tahun 1918. Salah satu
potret keberhasilan perempuan dalam dunia politik di Belanda adalah Fatuma
Muhumed, seorang pengacara yang berhasil menembus kursi dewan kota di Apeldoorn
meskipun awalnya berada di nomor urut bawah. Kemenangan Fatuma bukanlah suatu
kebetulan, melainkan hasil dari strategi gerakan Stem op een Vrouw atau
"Pilih Seorang Perempuan".
Gerakan Stem op een Vrouw
mengedukasi masyarakat untuk melakukan "pemilihan cerdas"
dengan cara memberikan suara kepada kandidat perempuan yang berada pada posisi
rentan dalam daftar partai, bukan hanya sekadar memilih pemimpin partai yang
sudah pasti aman di posisinya. Seperti halnya Fatuma yang awalnya berada di
peringkat ke-15 dalam daftar calon dari partai berhaluan kiri GroenLinks-PvdA,
tetapi ia berhasil merebut salah satu dari enam kursi partai tersebut. Stem
op een Vrouw juga berusaha untuk memutus siklus dimana politik tidak
cocok untuk perempuan. Selain berkampanye untuk memilih lebih banyak perempuan,
kelompok ini juga menghubungkan para kandidat perempuan dengan para
perempuan yang berpengalaman di politik untuk membangun jaringan,
mempelajari cara kerja sistem, dan mendapatkan pengertian yang menyeluruh.
Meskipun ada tantangan yang berat, tapi kehadiran
perempuan di parlemen yang kini mencapai angka 43,3% di tingkat nasional
Belanda menjadi angin segar bagi perubahan kebijakan yang lebih sensitif
gender. Kehadiran figur seperti Fatuma diharapkan mampu menjembatani kebutuhan
nyata masyarakat, terutama bagi perempuan muda agar isu perlindungan korban
kekerasan seksual tidak lagi hanya menjadi bahasan ringan, melainkan jadi fokus
utama. Hal ini juga bisa diartikan bahwa keberadaan perempuan di kursi
kekuasaan tidak hanya sekedar mengisi kuota, melainkan tentang memastikan bahwa
tidak ada lagi perempuan yang harus merasa takut hanya untuk melangkah keluar
rumah karena ruang amannya telah dirampas oleh sistem yang abai. Apakah sistem Stem
op een Vrouw seperti di Belanda ini bisa efektif jika diterapkan dalam
konteks politik di Indonesia?
Referensi:
https://www.dw.com/id/cara-belanda-atasi-minimnya-partisipasi-perempuan-di-politik/a-76759882
