Les Bahasa Belanda

UJIAN BASISEXAMENINBURGERING A1

Beberapa orang cukup kewalahan dalam mempersiapkan Ujian Basisexamen Inburgering. Tapi sebagian lagi bingung, itu ujian apa sih? Mungkinkah ...

Tuesday, August 11, 2026

Meisje met de Parel

 


Halo, sobat KP!

Para sobat KP tau gak sih? Ada satu lukisan Belanda yang wajahnya mungkin lebih kalian kenal daripada nama pelukisnya. Ya! Lukisan Meisje met de Parel, alias Gadis dengan Anting Mutiara. Lukisan terkenal ini dibuat oleh Johannes Vermeer (1632–1675), salah satu pelukis paling legendaris dari zaman keemasan Belanda (Gouden Eeuw). Vermeer hidup dan berkarya di kota Delft, dan ia terkenal dengan lukisan yang bernuansa adegan rumahan yang tenang dengan pencahayaan yang ikonik. Bedanya dengan pelukis lain, dia bukan bukan tipe pelukis produktif. Ia mengerjakan setiap kanvas dengan perlahan dan super teliti, jadi hanya sekitar 36 lukisan yang kita kenal sampai sekarang. Namun, uniknya setelah ia wafat namanya sempat menghilang hingga hampir dua abad, sampai akhirnya "ditemukan kembali" pada abad ke-19 dan dijuluki Sphinx van Delft karena sosoknya penuh misteri.

Lukisan Meisje met de Parel menarik, karena banyak orang salah mengira kalau lukisan ini merupakan potret seseorang. Faktanya, lukisan ini merupakan tronie yaitu lukisan wajah imajiner yang menampilkan sebuah tipe atau karakter, bukan potret orang asli. Makanya di lukisan ini sang gadis (meisje) menggunakan sorban gaya oriental dan anting mutiara besar yang mencolok, dimana ini bukan busana sehari-hari perempuan Belanda abad ke-17, tapi kostum agar kesannya eksotis dalam lukisan. Lukisan ini dibuat sekitar tahun 1665, dan ternyata ukurannya mungil hanya sekitar 44,5 × 39 cm. Namun, dibalik ukurannya yang mungil, lukisan ini menjadi bintang utama di museum Mauritshuis Den Haag.

Layaknya seorang pelukis yang memiliki ilmu seni tinggi, terdapat banyak hal menarik di balik lukisan ini. Mulai dari namanya, ternyata lukisan ini tidak selalu benama ”Gadis dengan Anting Mutiara”, melainkan sampai tahun 1995 dia lebih sering disebut "Gadis dengan Sorban". Lalu soal mutiaranya juga menuai perdebatan dimana kemungkinan besar mutiara itu palsu. Hal ini bermula karena mutiara dalam lukisan dinilai terlalu besar untuk ukuran mutiara asli, sehingga banyak yang menduga bahwa anting tersebut hanya tetesan kaca yang dilapisi pernis. Terlepas dari pemikiran ini, nama karya seni tersebut tidak diubah, itulah sebabnya karya seni ini masih dikenal sebagai ”Gadis dengan Anting Mutiara”. Selain itu, warna biru yang Vermeer gunakan, bukan warna biru sembarangan. Vermeer menggunakan pigmen ini terbuat dari mineral biru terang yang disebut lazurit dari batu lapisan lazuli, yang berasal dari Afghanistan. Selain itu, Vermeer juga dijuluki sebagai "master mutiara", karena mutiara (parel) ini muncul di 18 dari 36 lukisannya. Wah, kayaknya Vermeer bener-bener kagum sama kilauan mutiara, ya sobat!

Di luar fakta-fakta itu, masih ada sederet misteri yang kerap dibahas sampai hari ini. Salah satu yang paling bikin penasaran tentu saja: Siapa gadis ini sebenarnya? Karena dia cuma sebuah tronie, banyak yang yakin dia bukan orang nyata, tapi tetap ada segelintir orang yang menebak, mulai dari putri Vermeer sampai pembantunya, dan belum ada yang bisa memastikan. Ekspresinya pun bikin bingung, terlihat senang atau sedih, mau mendekat atau justru mau pergi? Justru keambiguan inilah yang bikin orang jatuh cinta. Belum lagi risetnya sendiri terus memunculkan kejutan, seperti latar hitam di belakang gadis itu ternyata dulunya sebuah tirai hijau yang perlahan lenyap karena catnya berubah seiring waktu. Bahkan teknik titik-titik cahaya khas Vermeer masih bikin para ahli nebak-nebak apakah dia diam-diam pakai alat bantu optik seperti camera obscura.

Pada akhirnya, rahasia keunikan lukisan ini justru ada di kesederhanaannya. Ya, hanya lukisan seorang gadis yang sedang menoleh dari kegelapan, ditambah dengan cahaya lembut, tanpa latar ramai atau cerita yang rumit. Sesederhana itu, tapi terasa hidup dan abadi. Jadi kalau suatu hari kamu mampir ke Belanda, sempetin nyapa lukisan ini langsung di Mauritshuis, Den Haag. Tot de volgende keer!

Tertarik belajar bahasa Belanda? sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!

Referensi:

https://www.mauritshuis.nl/en/our-collection/our-masters/johannes-vermeer

https://museum.royaldelft.com/en/blog/did-you-know-this-about-girl-with-a-pearl-earring/

 

Wednesday, August 5, 2026

Tingkatkan Bahasa Belandamu ke Level A2.1 Bareng Karta Pustaka: Pembukaan Kelas Periode Agustus 2026

  


        Karta Pustaka kembali menghadirkan Kursus Online Bahasa Belanda Level A2.1.

Detail Kelas:

  • Harga: Rp1.500.000 (untuk 20x pertemuan)

  • Jadwal: Selasa & Jumat, 18.30 – 20.00 WIB 

  • Mulai: 28 Agustus 2026

Jangan Sampai Kehabisan Kuota! 

Perjalanan menguasai bahasa Belanda merupakan investasi terbaik untuk masa depanmu. Jangan ragu untuk segera mendaftarkan diri karena kuota kelas sangat terbatas demi menjaga kualitas interaksi.

Proses pendaftarannya sangat mudah! Kamu bisa langsung daftar atau sekadar ngobrol santai untuk tanya-tanya lebih lanjut melalui: WhatsApp +62813-3899-8527 (Kak Dea) atau Instagram @kartapustaka juga sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!

Belajar bahasa baru memang membutuhkan komitmen, tapi bersama Karta Pustaka, belajarnya dijamin bakal seru dan terarah. Sampai jumpa di kelas, tot ziens !


Sunday, July 26, 2026

Pasar Keju Alkmaar: Tradisi yang Masih Hidup Tiap Jumat Pagi

 


Setiap Jumat pagi di sebuah kota kecil di Belanda, ada alun-alun yang akan berubah menjadi pasar keju yang bersejarah. Inilah Pasar Keju Alkmaar, pasar keju tertua dan terbesar di Belanda, yang tradisinya sudah bertahan hampir tujuh abad. Yuk, kita cari tahu lebih dalam!

Perdagangan keju di Alkmaar sudah berlangsung sekitar 600 tahun lalu. Kota ini tercatat memiliki timbangan keju (kaaswaag) sejak tahun 1365, dan karena perdagangan keju begitu penting, pada 1612 Alkmaar bahkan mengoperasikan empat timbangan keju sekaligus. Sejak 1593 (tahun yang dianggap sebagai tahun pertama pasar keju) kegiatan ini selalu digelar di Waagplein, alun-alun bersejarah yang menjadi pusat kota Alkmaar. Saking ramainya, Waagplein diperluas hingga tak kurang dari delapan kali sebelum mencapai ukurannya sekarang. Dari sini kita jadi tahu betapa pentingnya perdagangan keju bagi kota Alkmaar, ya sobat! Nah, yang membuatnya istimewa adalah pasar ini bukan sekadar peninggalan sejarah di museum, melainkan tetap hidup dan berlangsung hingga hari ini. Rasanya min KP jadi mau datang langsung ke sana, deh!

Sumber: Wikimedia

 

              Suasana perdagangan keju di Alkmaar tidak terlepas dari Kaasdragersgilde (serikat pengangkut keju) yang sudah ada sejak 400an tahun yang lalu. Serikat Pengangkut Keju Alkmaar berdiri pada 17 Juni 1593 dan hingga kini beranggotakan 28 orang ditambah dengan seorang kepala. Mereka terbagi ke dalam empat kelompok yang disebut vemen, masing-masing berwarna merah, hijau, biru, dan kuning. Warna-warna ini terlihat mencolok di topi jerami dan dasi kupu-kupu mereka, dipadukan setelan serba putih. Keempat vemen dipimpin oleh seorang "Ayah Keju" yang mudah dikenali dari topi oranye dan tongkatnya. Menariknya, penempatan tiap kelompok di area pasar ditentukan lewat undian dadu, dan karena jumlah kelompoknya lebih banyak dari slot yang tersedia, selalu ada satu kelompok yang bergiliran bertugas khusus mengangkut keju dengan troli.

              Tradisi dan kebiasaan sangat dijunjung tinggi di sini, bahkan perilaku para pengangkut keju Alkmaar diatur oleh aturan tidak tertulis. Salah satu tradisi yang paling seru adalah setiap anggota diberi julukan sesuai sifatnya, seperti "si Penerjemah" yang jago bahasa asing, "si Katup" yang cerewet sekaligus tukang servis mesin, "si Jangan-Lupakan-Aku" yang pelupa, hingga "si Peminum" yang bertugas membuka keran bir setelah pasar. Ada pula aturan ketat selama pasar berlangsung, dimana di pasar ini sangat dilarang berkelahi, merokok, minum alkohol, bahkan mengumpat. Kalau ada yang terjatuh atau keju terguling, mereka bukan memaki, melainkan cukup berseru "burung hantu!". Dan jika sang Ayah Keju lupa membawa tongkat atau topinya, para anggota akan menggodanya, "Ayah, kau berjalan telanjang!"

Selain itu, disiplin waktu juga menjadi bagian dalam tradisi ini. Semua pengangkut wajib hadir di Waagplein pukul 7.00 pagi, dan yang terlambat namanya akan dicatat di papan dan didenda oleh petugas bernama "Provost” (dikenal juga sebagai ”Sang Algojo”). Uang denda itu akan disumbangkan untuk sebuah sekolah di kota kecil bernama Alkmaar di Suriname, dan sebagian lagi untuk perayaan "malam remah roti". Setiap Jumat sebelum Natal, para anggota berkumpul menerima hadiah: upah €5, dua kue isi sebagai terima kasih untuk para istri yang setia menjaga seragam putih tetap bersih, serta roti dengan mentega dan keju untuk anak-anak.

Dari semua cerita tadi, terlihat bahwa pasar keju Alkmaar bukan sekadar tempat berdagang, melainkan warisan budaya yang tetap hidup sampai saat ini, ya sobat. Inilah yang membuatnya begitu istimewa dimana sebuah tradisi tua yang masih bisa kita saksikan langsung sampai hari ini. Nah, buat sobat KP yang mau dateng langsung, pasar keju digelar di Waagplein, Alkmaar, setiap Jumat pukul 10.00–13.00, mulai akhir Maret hingga akhir September. Khusus Juli dan Agustus, ada tambahan pasar keju malam pada Selasa malam pukul 19.00–21.00. Untuk informasi lebih lengkapnya, sobat KP bisa akses dari https://www.kaasmarkt.nl ya sobat! Selamat berkunjung dan menikmati keseruan pasar keju tertua di Belanda.

Tertarik belajar bahasa Belanda? sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!

Referensi:

https://www.kaasmarkt.nl/en-gb/history-of-the-cheese-market/cheese-carriers

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kaasdragers_Gilde_van_Alkmaar_2013.jpg