Siapa di antara para sobat KP yang pernah
membayangkan ada “jalan air” melintas di atas kepala kita? Di Indonesia,
tepatnya di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, ada lho
yang namanya Buk Renteng. Buk Renteng ini merupakan saluran irigasi
bersejarah (juga dikenal sebagai Kanal Van der Wijck) yang melintas di
atas kepala kita. Bangunan cagar budaya peninggalan era kolonial Hindia Belanda
ini, bentuknya menyerupai jembatan batu berongga, dengan bagian atasnya
mengalirkan air deras untuk menghidupi puluhan ribu hektar sawah, sementara
terowongan di bawahnya digunakan sebagai akses jalan warga.
(Buk Renteng)
Apa Itu Veluwemeer Aqueduct?
Secara sederhana, Veluwemeer Aqueduct adalah
jembatan air. Jika jembatan pada umumnya dibangun agar orang atau kendaraan
bisa menyeberangi sungai, di sini konsep pemahamannya terbaik, menjadi
sungainya yang dibangun melayang agar kapal bisa menyeberangi jalan raya. Wah,
kerennya! Berlokasi di Harderwijk, Belanda, jembatan ini melintang
tepat di atas jalan raya N302 (jalan dengan lalu lintas sibuk yang menghubungkan Belanda dengan Flevoland).
Proses perancangan dan pembangunan jembatan ini cukup singkat, yaitu selama
empat tahun (1998–2002). Saluran Air ini memiliki panjang 25 meter
dengan lebar 19 meter. Menjadikannya salah satu saluran air terpendek di
dunia. Air yang mengalir di atas jembatan ini memiliki kedalaman
sekitar 3 meter, yang memungkinkan kapal kecil atau kendaraan air berdaya
angkut dangkal dapat lewat di atasnya. Pembangunan jembatan Veluwemeer
Aqueduct menelan biaya sekitar US$ 61 juta atau sekitar Rp 868 miliar,
sobat.
Melihat konsepnya yang “terbalik”, pertanyaan
pertama yang pasti muncul di kepala adalah: "Kenapa nggak bikin
jembatan biasa aja?". Nah, seperti yang kita tahu, orang
Belanda sudah terkenal sejak ratusan tahun lalu sebagai ahli menaklukkan air. Sehingga, para insinyur di sana memikirkan
tiga faktor utama yaitu biaya, efisiensi lalu lintas, dan kelancaran jalur
air. Saat merancang proyek ini, para insinyur sebenarnya sempat mempertimbangkan
opsi seperti membangun jembatan angkat maupun terowongan. Sayangnya,
semua ide tersebut dinilai kurang efisien, karena kalau memakai jembatan
angkat, arus kendaraan di jalan N302 yang super sibuk pasti bakal sering
berhenti dan akan berakibat ke macet total. Di sisi lain, membangun terowongan
atau jembatan raksasa juga dinilai terlalu memakan waktu dan menguras anggaran.
Sebagai solusi yang paling baik dan efisien, dipilihlah konsep saluran air
pendek yang melayang di atas jalan raya. Pilihan ini terbukti sangat masuk akal
dan hemat, mengingat jalur lalu lintas kapal di titik tersebut memang tidak
membutuhkan perairan yang lebar dan dalam.
Belanda juga negara yang nyaman untuk para pejalan
kaki juga pesepeda. Di kedua sisi Veluwemeer Aqueduct, terdapat trotoar
khusus yang disediakan untuk pejalan kaki dan jalur khusus pesepeda. Jadi, para
sobat KP bisa berdiri tepat di pinggir saluran air ini, melihat mobil melintas
di bawah kaki, sambil menikmati pemandangan perahu yang lewat di samping.
Benar-benar pemandangan yang keren dan memanjakan mata.
Referensi:
https://bacajogja.id/2022/03/22/sejarah-kanal-van-der-wijck-buk-renteng-di-sleman-yogyakarta/
https://interestingengineering.com/culture/the-netherlands-unique-water-bridge
https://bptsugm.com/veluwemeer-aqueduct-jembatan-unik-yang-fenomenal-di-belanda/
https://vnbuilding.vn/en/blog/veluwemeer-aqueduct-a-dutch-marvel-of-engineering
