Les Bahasa Belanda

UJIAN BASISEXAMENINBURGERING A1

Beberapa orang cukup kewalahan dalam mempersiapkan Ujian Basisexamen Inburgering. Tapi sebagian lagi bingung, itu ujian apa sih? Mungkinkah ...

Tuesday, June 9, 2026

Kisah Belanda, Yogyakarta, dan Benteng Vredeburg

 


Museum Benteng Vredeburg Pamerkan Koleksi Sejarah di Gunungkidul

Yogyakarta, kota pelajar yang istimewa dengan beragam budaya dan unggah-ungguhnya. Kuliner dan tempat bersejarahnya berderet hingga ke pusat kota. Namun, dibalik itu semua, kota ini menyimpan rekam jejak sejarah yang masih tersimpan rapi. Salah satu saksi bisu paling monumental dari ”gesekan” antara penguasa lokal dan kolonial adalah Benteng Vredeburg. Mari kita bahas lebih dalam bagaimana sebuah pos pantau militer VOC bisa hadir begitu dekat dengan pusat penguasa lokal di Yogyakarta.

Kisah ini bermula ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Keraton Kasultanan Yogyakarta pada Oktober 1755. Setelah selesai membangun kraton, Sri Sultan HB I mulai membangun bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti Pasar Gedhe, Masjid, alun-alun dan bangunan pelengkap lainnya di sekitar keraton. Disisi lain, kemajuan pesat keraton saat itu ternyata memicu rasa waswas dari kubu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Merasa membutuhkan "mata dan telinga" untuk mengawasi pusat kekuasaan tersebut, pihak Belanda mulai melancarkan strateginya. Mereka membujuk Sultan agar diizinkan membangun markas militer di dekat keraton, dengan dalih ingin membantu menjaga keamanan wilayah dari ancaman luar. Permohonan ini disetujui oleh Sri Sultan, sehingga dimulailah pembangunan konstruksi pada tahun 1760 hingga 1767. Bangunan awal yang sederhana tersebut lalu disempurnakan menjadi benteng pertahanan permanen dibawah pimpinan Gubernur Johannes Sioeberg diresmikan menjadi benteng kompeni dengan nama Rustenburgh yang artinya “tempat istirahat” pada tahun 1787. Di balik dalih keamanan dan penamaannya yang ”damai”, posisi strategi benteng yang hanya menjangkau satu tembakan meriam merupakan taktik tersembunyi untuk mengontrol aktivitas keraton, mengintimidasi, sekaligus langkah antisipasi jika sewaktu-waktu Sultan melancarkan serangan balik ke Belanda. Wah, ngeri juga ya kalau dipikir-pikir. Dengan jarak sesempit itu, kebayang banget kalau tiba-tiba Belanda beneran menembakkan meriamnya ke arah keraton. Pusat pemerintahan pasti bisa langsung lumpuh total dalam hitungan menit aja!

Pada tahun 1867, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang cukup dahsyat hingga menghancurkan hampir seluruh wilayah Yogyakarta tidak terkecuali Benteng Rustenburgh. Bencana alam ini memaksa pemerintah kolonial untuk melakukan perbaikan besar-besaran. Kemudian, setelah perbaikan ini selesai oleh Daendels, nama benteng Rustenburgh diubah menjadi benteng Vredeburg yang artinya “perdamaian”.

Secara lokasi, tanah tempat benteng ini terbangun adalah aset sah milik keraton. Namun, sejarah mencatat penguasaan operasionalnya terus berpindah tangan dari VOC, Inggris, Jepang, hingga militer republik Indonesia. Ya, benteng ini merekam setiap peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta. Pada tahun 1811-1816, benteng ini dikuasai oleh pemerintah Inggris di bawah penguasaan John Crawfurd atas perintah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles. Pada masa ini, terjadi peristiwa penting yaitu Geger Sepoy yang merupakan penyerbuan pasukan Inggris terhadap Kraton Yogyakarta. Disebut sebagai Geger Sepoy karena kebanyakan pasukan Inggris ini berasal dari Brigade Sepoy. Brigade yang tentaranya direkrut dari warga India yang sudah terlebih dahulu dijajah oleh Inggris.

(Pasukan Sepoy)

Kemudian, ketika militer kekaisaran Jepang merebut Nusantara pada tahun 1942, fungsi Benteng Vredeburg berubah drastis. Lorong-lorong dan ruangannya yang kokoh disulap menjadi markas polisi militer (kempetei), gudang amunisi tempur, sekaligus rumah tahanan bagi orang-orang Belanda dan tokoh politik lokal yang membangkang terhadap pemerintahan Jepang.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945,  benteng ini pun jatuh ke tangan militer Republik Indonesia. Namun, saat peristiwa Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, benteng ini kembali dikuasai oleh Belanda (1948-1949). Belanda menjadikan benteng ini sebagai markas tentara IV G (Informatie Voor Geheimen), yaitu Dinas Rahasia Belanda. Disamping itu, benteng ini juga digunakan sebagai markas batalyon pasukan dan penyimpanan perbekalan berbagai peralatan tempur. Oleh karena itu, pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan TNI menjadikan benteng ini sebagai salah satu sasaran serangan utama untuk dapat menaklukan pasukan Belanda. Pada 29 Juni 1949, setelah mundurnya pasukan Belanda dari Yoyakarta, maka pengelolaan Benteng Vredeburg dipegang oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

(Kompleks Bangunan di dalam Benteng Vredeburg)

Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang dari benteng ini, yuk sekarang kita melompat ke era modern saat ini. Melalui proses penataan ulang, kompleks sejarah ini resmi bertransformasi menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional pada tahun 1992. Sekarang, di sana sobat KP gak akan menemukan serdadu yang berpatroli dengan hawa yang mencekam. Sebaliknya, kalian akan disambut oleh kumpulan diorama, artefak autentik (seperti peralatan perang gerilya, mata uang kepingan zaman VOC, hingga barang-barang pribadi milik para tokoh pahlawan), juga ruang terbuka hijau yang nyaman dan tentunya fotogenik abis. Keberadaan Museum Benteng Vredeburg di pusat kota seakan mengingatkan betapa mahalnya harga dari sebuah sejarah panjang kota Yogyakarta. Pokoknya, kalian wajib deh mengunjungi Benteng Vredeburg!

Referensi:

https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/benteng-vredeburg

https://kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/geger-sepoy

https://travel.kompas.com/read/2022/08/24/150700827/museum-benteng-vredeburg-pamerkan-koleksi-sejarah-di-gunungkidul?page=all