Halo, sobat KP!
Kalimantan merupakan pulau besar di Indonesia yang
selama ini tidak menggunakan kereta api sebagai transportasi publik bagi
masyarakatnya. Namun anggapan bahwa Kalimantan "tak pernah punya
rel" adalah anggapan yang keliru. Di balik padatnya hutan tropis,
tersimpan peninggalan besi-besi tua zaman Hindia Belanda yang nyaris
terlupakan. Tapi, saat ini kisah itu akan kembali relevan karena pemerintah
berambisi menghidupkan jaringan Kereta Trans Kalimantan. Penasaran? Yuk
kita bahas lebih lanjut!
Kereta api pertama di Kalimantan bukanlah kereta
penumpang yang mengangkut manusia dari kota ke kota, melainkan lori tambang
yang bergerak mengangkut batu bara. Mansyur seorang sejarawan sekaligus dosen Program
Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menjelaskan
bahwa pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, mereka ”mau tidak mau”
harus membangun jaringan rel demi mendukung pengangkutan hasil bumi ke
pelabuhan dan kota untuk menunjang efisiensi waktu jual beli. Selain itu,
keberadaan jaringan rel kereta di Kalimantan ini juga ditelusuri oleh Mr Gerard de Graaf,
seorang railfans (penggemar kereta api) Belanda yang juga seorang fotografer.
Ia banyak merujuk buku Onze Koloniale Minjnbouw De Steenkolonindustria karya Ir
RJ Van lier. Menurut catatan tersebut, kereta di daerah pertambangan seperti
Sumatra dan Kalimantan beroprasi dalam rentang 1888 – 1956. Jejak tertua
perkeretaapian ini mengarah ke tambang Oranje-Nassau di Pengaron, Kabupaten
Banjar, tempat gerobak kecil digerakkan di atas rel sederhana menuju Sungai
Riam Kiwa. Dugaan yang diperkuat temuan dua roda besi lori oleh Balai
Arkeologi Banjarmasin pada 2012.
(Roda besi yang diduga milik lori di
Situs Tambang Batubara Oranje Nassau yang ditemukan Tim ekskavasi Balai
Arkeologi Banjarmasin (2012))
Jejak peninggalan
serupa juga muncul di Balikpapan, di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) atau
anak usaha dari Royal Dutch Shell. Mereka membangun rel untuk mengangkut
drum minyak dari kilang ke pelabuhan sekaligus mengangkut para petinggi
perusahaan. Jaringan bersistem Decauville (decauville
merupakan sistem kereta api industri ringan) ini dibangun dengan lebar rel
1.000 mm, sama seperti Sabah State Railway, dengan lokomotif uap Henschel und
Sohn dan diesel Deutz asal Jerman. Sayangnya, jalur rel Kalimantan ini
berakhir hancur. Infrastruktur di Balikpapan lenyap pada Perang Dunia II
dan makin tersingkir oleh modernisasi pengangkutan BBM.
(Kereta api Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Balikpapan)
(Kereta Api
BPM yang sedang mengangkut drum minyak)
Wacana
menghidupkan perkeretapian di kalimantan berulang kali muncul namun selalu berakhir
nihil. Mulai dari Presiden Joko Widodo yang melakukan peletakan batu
pertama pembangunan proyek kereta api batubara di Balikpapan, Kaltim tahun 2015.
Kemudian, pembangunan jalur kereta itu beriringan dengan rencana awal
pemerintah membangun jaringan 2.428 km pada 2015–2017 dari Kalimantan Utara
memutar ke Kalimantan Barat. Proyek ini pun tak berlanjut. Tapi, kini harapan
itu kembali lagi, dimana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan Trans
Kalimantan sebagai prioritas, bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjajaki
investor dari China dan Rusia. Wah, jika ini benar terealisasikan, min KP
gakebayang sih seberapa kerennya!
Dari lori batu
bara yang zaman kolonial hingga rencana kereta modern yang dilirik investor
asing, sejarah menegaskan bahwa rel di Kalimantan pernah ada, rusak, dan
menghilang puluhan tahun. Apakah
generasi kita yang sekarang mampu mengubah jejak besi tua itu menjadi moda
transportasi rakyat di sana? Kita tunggu dan lihat ya, sobat!
Tertarik belajar bahasa Belanda? sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!
Referensi:
https://irps.or.id/2021/04/kalsel-pertama-kali-miliki-rel-kereta-api-di-indonesia/
https://irps.or.id/2024/01/jejak-kereta-api-di-bagian-indonesia-di-pulau-kalimantan/
https://www.kompas.id/artikel/wacana-kereta-api-kalimantan-dan-rencana-yang-selalu-kandas
No comments:
Post a Comment