Les Bahasa Belanda

UJIAN BASISEXAMENINBURGERING A1

Beberapa orang cukup kewalahan dalam mempersiapkan Ujian Basisexamen Inburgering. Tapi sebagian lagi bingung, itu ujian apa sih? Mungkinkah ...

Thursday, April 23, 2026

Cara "Voting Cerdas" Membawa Suara Perempuan ke Dunia Politik Belanda

 


Van Nieuwsuur naar Omroep Gelderland. Afgelopen woensdag ben ik  geïnstalleerd als raadslid voor Progressief Nederland. Ik ben ontzettend  dankbaar voor alle kansen die ik heb gekregen, en vooral dat… | Fatuma  Muhumed

 

Halo, sobat KP!

Belakangan ini di media sosial sedang digemparkan dengan kasus-kasus yang bikin min KP sedih. Kasus kekerasan seksual mulai muncul satu per satu ke permukaan, mulai dari di lingkungan kampus, tempat kerja, bahkan sampai ruang publik yang harusnya jadi tempat paling netral sekalipun. Rasanya, "ruang aman" buat perempuan itu makin hari makin susah ditemui. Hal ini juga jadi salah satu alasan kenapa perempuan lebih sulit untuk berekspresi.

Mengapa siklus ini bisa terus berulang? Masalah utamanya terletak pada kebijakan yang sering kali gagal melindungi perempuan saat diimplementasikan. Hal ini terjadi karena di ruang pengambilan keputusan, suara perempuan masih menjadi minoritas. Maka tak heran jika presentase perempuan di lingkungan politik lebih sedikit dibanding laki-laki. Nah, ngomongin soal ini, kita bisa melirik ke Belanda. Negara kincir angin ini punya reputasi yang cukup oke dalam urusan kesetaraan gender di panggung politik. Gimana sih cara mereka bikin perempuan bisa berkarier dan berekspresi di pemerintahan?

Dalam representasi perempuan di parlemen, Belanda memegang 43,3% di tingkat nasional. Angka ini di atas rata-rata Uni Eropa tahun lalu sebesar 33,6% dan menjadi yang tertinggi sejak anggota parlemen perempuan Belanda pertama terpilih pada tahun 1918. Salah satu potret keberhasilan perempuan dalam dunia politik di Belanda adalah Fatuma Muhumed, seorang pengacara yang berhasil menembus kursi dewan kota di Apeldoorn meskipun awalnya berada di nomor urut bawah. Kemenangan Fatuma bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari strategi gerakan Stem op een Vrouw atau "Pilih Seorang Perempuan".

Gerakan Stem op een Vrouw mengedukasi masyarakat untuk melakukan "pemilihan cerdas" dengan cara memberikan suara kepada kandidat perempuan yang berada pada posisi rentan dalam daftar partai, bukan hanya sekadar memilih pemimpin partai yang sudah pasti aman di posisinya. Seperti halnya Fatuma yang awalnya berada di peringkat ke-15 dalam daftar calon dari partai berhaluan kiri GroenLinks-PvdA, tetapi ia berhasil merebut salah satu dari enam kursi partai tersebut.  Stem op een Vrouw juga berusaha untuk memutus siklus dimana politik tidak cocok untuk perempuan. Selain berkampanye untuk memilih lebih banyak perempuan, kelompok ini juga menghubungkan para kandidat perempuan dengan para perempuan yang berpengalaman di politik untuk membangun jaringan, mempelajari cara kerja sistem, dan mendapatkan pengertian yang menyeluruh.

Meskipun ada tantangan yang berat, tapi kehadiran perempuan di parlemen yang kini mencapai angka 43,3% di tingkat nasional Belanda menjadi angin segar bagi perubahan kebijakan yang lebih sensitif gender. Kehadiran figur seperti Fatuma diharapkan mampu menjembatani kebutuhan nyata masyarakat, terutama bagi perempuan muda agar isu perlindungan korban kekerasan seksual tidak lagi hanya menjadi bahasan ringan, melainkan jadi fokus utama. Hal ini juga bisa diartikan bahwa keberadaan perempuan di kursi kekuasaan tidak hanya sekedar mengisi kuota, melainkan tentang memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang harus merasa takut hanya untuk melangkah keluar rumah karena ruang amannya telah dirampas oleh sistem yang abai. Apakah sistem Stem op een Vrouw seperti di Belanda ini bisa efektif jika diterapkan dalam konteks politik di Indonesia?

 

Referensi:

https://nl.linkedin.com/posts/fatuma-muhumed-2161a12a4_van-nieuwsuur-naar-omroep-gelderland-afgelopen-activity-7445834072809070592-VOOQ

https://www.dw.com/id/cara-belanda-atasi-minimnya-partisipasi-perempuan-di-politik/a-76759882

https://www.liputan6.com/global/read/6316461/cara-belanda-atasi-minimnya-partisipasi-perempuan-di-politik

 

No comments:

Post a Comment